18 Juni 2011

Che Guevara

Che Guevara adalah pejuang revolusi Marxis Argentina dan seorang pemimpin gerilya Kuba. Terlahir dengan nama Ernesto Guevara Lynch de La Serna, Che Guevara lahir di Rosario, Argentina pada tanggal 14 Juni 1928 dari keluarga yang berdarah campuran Irlandia, Basque dan Spanyol. Tanggal lahir yang ditulis pada akta kelahirannya adalah  14 Juni 1928 namun tanggal  kelahiran yang sebenarnya adalah 14 Mei 1928.
Sejak usia dua tahun Che Guevara mengidap asma, penyakit tersebut melekat pada tubuhnya sepanjang hidup dan karena alasan demi kesembuhan penyakit yang dideritanya, keluarganya pindah ke Alta Grasia (Cordoba) dimana wilayah tersebut lebih kering dibanding daerah terdahulu namun didaerah barunya tersebut, penyakit asma yang diderita Che pun tidak pernah membaik.

Pendidikan dasar dilaluinya di rumah yang sebagian dari ibunya  Celia de la Serna. Pada usianya yang begitu muda, Che Guevara telah menjadi seorang pembaca yang lahap.  Che sangat rajin membaca literature-literatur tentang Karl Marx, Engels dan Sigmund Freud yang ada di perpustakaan ayahnya. 

Pada tahun 1941 Che melanjutkan studinya (setingkat sekolah menengah pertama) di Colegio Nacional Deán Funes (Córdoba) dan di sekolah ini ia menjadi pelajar terbaik di bidang sastra dan olahraga. 

Di rumahnya, Che Guevara tergerak hatinya oleh para pengungsi perang saudara Spanyol, juga oleh rentetan krisis politik yang parah di Argentina yang puncaknya saat pimpinan pemerintahan dipegang oleh diktator fasis kiri Juan Peron, seorang yang paling  ditentang Che Guevara. 

Berbagai macam peristiwa tertanam kuat dalam diri Che, ia melihat sebuah penghinaan dalam pantomim yang dilakonkan di Parlemen dengan demokrasinya. Maka muncul pulalah kebenciannya akan politisi militer beserta kaum kapitalis dan terutama pada mata uang Dolar Amerika yang dianggapnya sebagai lambang kapitalisme.
Meski demikian dia sama sekali tidak ikut dalam gerakan pelajar revolusioner. Ia hanya menunjukkan sedikit minat dalam bidang politik pada saat dia menimba ilmu kedokteran   di Universitas Buenos Aires pada tahun 1947. Pada awalnya ia hanya tertarik untuk  memperdalam penyakitnya sendiri, namun kemudian dia lebih berminat pada penyakit kusta.

Pada tahun 1949 Che Guevara melakukan perjalanan panjangnya yang pertama menjelajahi Argentina Utara hanya menggunakan sepeda motor dan perjalanan tersebut merupakan titik awal pertama kalinya ia bersentuhan langsung dengan orang-orang  miskin dan sisa-sisa suku Indian. 

Pada tahun 1951 setelah menempuh ujian pertengahan semester di universitas, Che Guevara mengadakan perjalanan yang lebih panjang lagi dimana untuk perjalanan kali ini Che didampingi oleh seorang teman. Untuk menafkahi hidupnya diperjalanan tersebut ia bekerja sebagai pekerja paruh waktu.
Saat mengunjungi Amerika Selatan, Che sempat bertemu bertemu Salvador Allende di Chile dan selama  berada di Peru, Che bekerja di Leprasorium San Pablo selama beberapa minggu, di  Kolombia Che Guevara tiba pada saat La Violencia kemudian sewaktu berada di Venezuela ,Che sempat ditangkap oleh pihak berwenang setempat yang kemudian dibebaskan kembali, ia juga sempat mengunjungi Miami. 

Dari pengalaman perjalannya tersebut, Che Guevara mengisahkannya dalam buku harian yang kemudian diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul Buku Harian Sepeda Motor (The Motorcycle Diaries), yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada 1996 dan kemudian difilmkan dengan judul yang sama pada tahun 2004.

Perjalanan Che Guevara

Sekembalinya Che dari perjalanan panjang tersebut ke daerah asalnya, ia memantapkan diri  dengan sebuah keyakinan bulat atas satu hal bahwa ia tidak mau menjadi profesional kelas menengah dikarenakan keahliannya sebagai seorang spesialis kulit. 

Kemudian pada masa revolusi nasional ia pergi ke La Paz, Bolivia dan  di sana Che dituduh sebagai seorang oportunis. Dari Bolivia Che melanjutkan perjalanan ke Guatemala dan selama di Guatemala ia menulis artikel arkeologi tentang reruntuhan Indian Maya dan Inca di mana Guatemala saat itu diperintah oleh Presiden Jacobo Arbenz Guzman yang seorang sosialis.
Meskipun Che telah menjadi penganut paham marxisme dan ahli sosial Lenin ia tak mau bergabung dalam Partai Komunis. Hal ini mengakibatkan hilangnya kesempatan baginya untuk menjadi tenaga medis pemerintah, oleh karena itu ia menjadi miskin.
Selama di Guatemala, Ce berkenalan dengan salah seorang penganut paham Marxis keturunan Indian lulusan pendidikan politik yaitu Hilda Gadea dan orang inilah yang memperkenalkannya kepada Nico Lopez, salah satu Letnan jaringan Fidel Castro.



Di Guatemala Che banyak melihat kerja agen-agen CIA sebagai agen kontrarevolusi  yang banyak mempengaruhi pola pikir Che akan revolusi dimana ia semakin yakin bahwa revolusi hanya dapat dijalankan dengan jaminan persenjataan. Ketika Presiden Arbenz turun jabatan, Che Guevara pindah ke Kota Mexico (pada September tahun 1954) dan bekerja di Rumah Sakit Umum setempat, diikuti Hilda Gadea dan Nico Lopez. 

Saat bertemu kakak beradik Raúl Castro dan Fidel Castro serta para imigran politik lainnya, Che Guevara sangat  kagum pada kakak beradik tersebut dan ia menyadari bahwa Fidel-lah pemimpin yang ia cari.
Dari perkenalannya dengan Castro bersaudara tersebut, membawa Che Guevara akhirnya bergabung dengan para pejuang pengikut Castro. Bersama para pejuang tersebut, perjuangan dilakukan di rumah-rumah petani tempat para pejuang revolusi Kuba dilatih perang gerilya secara keras dan profesional oleh kapten tentara Republik Spanyol Alberto Bayo, seorang pengarang "Ciento cincuenta preguntas a un guerilleo" (Seratus lima puluh pertanyaan kepada seorang gerilyawan) di Havana, tahun 1959.
Che Guevara bersama Fidel Castro
Bayo tidak hanya mengajarkan pengalaman pribadinya tetapi juga ajaran Mao Ze Dong dan Che menjadi murid kesayangannya serta menjadi pemimpin di kelas. Latihan perang di tanah pertanian membuat polisi setempat curiga dan Che beserta orang-orang Kuba tersebut ditangkap namun dilepaskan kembali sebulan kemudian.
Pada tahun 1956 di bulan Juni ketika mereka menyerbu Kuba, Che Guevara pergi bersama mereka, awalnya kepergiannya tersebut sebagai dokter namun kemudian Che menjadi komandan tentara revolusioner Barbutos

Sebagai komnandan tentara, Che termasuk yang paling pandai, agresif serta paling berhasil dari semua pemimpin gerilya yang ada dan yang paling bersungguh-sungguh memberikan ajaran Lenin kepada anak buahnya. Ia juga seorang yang sangat disiplin, kejam serta tidak sungkan-sungkan menembak orang yang ceroboh dan dari arena inilah Che mendapatkan reputasi atas kekejamannya yang berdarah dingin dalam eksekusi massa pendukung fanatik presiden yang terguling Batista.


Pada saat revolusi Kuba dimenangkan, Che Guevara merupakan orang kedua setelah Fidel Castro dalam pemerintahan baru Kuba dan orang yang bertanggung jawab menggiring Castro menuju komunisme merdeka bukan komunisme ortodoks ala Moskwa yang dianut beberapa temannya semasa di bangku kuliah. 

Che mengorganisir dan memimpin "Instituto Nacional de la forma Agraria", yang menyusun hukum agraria dimana isinya menyita tanah-tanah milik kaum feodal (tuan tanah), mendirikan Departemen Industri serta ditunjuk sebagai Presiden Bank Nasional Kuba dan menggusur orang orang komunis dari pemerintahan serta pos-pos strategis.


Ia bertindak keras melawan dua ekonom Perancis beraliran Marxis yang dimintai nasehatnya oleh Fidel Castro dan yang menginginkan Che bertindak lebih perlahan. Che pula yang melawan para penasihat Uni Soviet. Dia mengantarkan perekonomian Kuba begitu cepat ke komunisme total, menggandakan panen dan mendiversifikasikan produksi yang ia hancurkan secara temporer.

Che di Indonesia..
Che Guevara menikah dengan  Aledia March pada tahun 1959 kemudian pada tanggal 12 Juni 1959 dimana belum genap enam bulan sesudah Revolusi Kuba meraih kemenangan, Castro mengutus Che  untuk mengunjungi 14 Negara Asia selama tiga bulan yang kebanyakan negara-negara yang dikunjungi tersebut adalah negara peserta Konferensi Asia Afrika  yang diadakan di Bandung pada tahun 1955. Pada rentang tiga bulan inilah Che mampir ke Jakarta dan menyempatkan diri berkunjung ke Candi Borobudur di Magelang Jawa Tengah.

Setahun setelah kunjungan tersebut yakni pada tanggal 13 Mei 1960, Presiden Soekarno mengunjungi Kuba. Di Bandara Jose Marti, Havana, Soekarno disambut oleh Presiden Kuba Fidel Castro, Che Guevara, dan deretan pejabat Kuba lainnya. 
Che bersama sang istri
Sekembalinya ke Kuba, Che diangkat sebagai Menteri Perindustrian dan pada bulan Februari tahun 1960 ia menandatangani pakta perdagangan dengan Uni Soviet yang melepaskan industri gula Kuba pada ketergantungan pasar Amerika. Ini merupakan isyarat akan kegagalannya di Kongo dan Bolivia sebuah aksioma akan sebuah kekeliruan yang tak akan terelakkan. "Tidaklah penting menunggu sampai kondisi yang memungkinkan sebuah revolusi terwujud sebab fokus instruksional dapat mewujudkannya" kata Che.


Dengan ajaran Mao Ze Dong, Che percaya bahwa daerah daerah pasti membawa revolusi ke kota yang sebagian besar penduduknya adalah petani. Juga pada saat ia menyebarkan filosofi komunisnya (diterbitkan kemudian dalam "The Socialism and Man in Cuba", 12 Maret 1965). Ia meringkas pahamnya menjadi "Manusia dapat sungguh mencapai tingkat kemanusiaan yang sempurna ketika berproduksi tanpa dipaksa oleh kebutuhan fisiknya sehingga ia harus menjual dirinya sebagai barang dagangan".


Konfrontasi dengan Uni Soviet

Penentangan resminya terhadap komunis Uni Soviet tampak ketika dalam organisasi untuk Solidaritas Asia Afrika di Aljazair pada bulan Februari 1965, Che menuduh Uni Soviet sebagai kaki tangan imperialisme dengan berdagang tak hanya dengan negara-negara blok komunis dan memberikan bantuan pada negara berkembang sosialis atas pertimbangan pengembaliannya. Ia juga menyerang pemerintahan Soviet atas kebijakan hidup bertetangga dan juga atas Revisionisme. 

Che Guevara mengadakan konferensi Tiga Benua untuk merealisasikan program revolusioner, pemberontakan, kerjasama gerilya dari Afrika, Asia dan Amerika Selatan. Di samping itu setelah terpaksa berhubungan dengan Amerika Serikat, Che sebagai perwakilan Kuba di PBB menyerang negara-negara Amerika Utara atas keserakahan mereka dan imperialisme yang kejam di Amerika Latin.

Sikap Che yang tidak kenal kompromi pada dua negara kapitalis mendorong negara komunis memaksa Castro memberhentikan Che pada tahun 1965, bukan secara resmi tetapi secara nyata. 

Untuk beberapa bulan tempat tinggalnya dirahasiakan dan kematiannya santer diisukan. Ia berada di berbagai Negara Afrika terutama Kongo di mana dia mengadakan survei akan kemungkinan mengubah pemberontakan Kinshasa menjadi sebuah revolusi komunis dengan taktik gerilya Kuba. 

Ia kembali ke Kuba untuk melatih para sukarelawan untuk proyek ini dan mengirim kekuatan 120 orang Kuba ke Kongo. Anak buahnya bertempur dengan sungguh-sungguh tetapi tidak demikian halnya dengan para pemberontak Kinshasa. Mereka sia-sia saja melawan kekejaman Belgia dan ketika musim gugur 1965 Che meminta Castro untuk menarik mundur saja bantuan Kuba.

Kematian Che Guevara

Petualangan revolusioner terakhir Che adalah di Bolivia, karena ia salah memperkirakan potensi kekuatan negara tersebut yang mengakibatkan konsekuensi yang buruk. Che Guevara ditangkap tentara Bolivia pada pada tanggal 8 Oktober 1967 yang mengakhiri segala segala usahanya dan sehari setelah penagkapan tersebut, Che dijatuhi hukuman mati dengan cara ditembak.

Pada tahun 1997 tepatnya tanggal 12 Juli jenazah Che Guevara dikuburkan kembali dengan upacara kemiliteran di Santa Clara, di provinsi Las Villas, di mana Guevara mengalami kemenangan dalam pertempuran ketika terjadi revolusi Kuba.

Che Guevara menjadi legenda.
Che Guevara dikenang karena sosoknya yang ganas, penampilannya yang romantis, gayanya yang menarik, sikapnya yang tak kenal kompromi dan penolakan atas penghormatan berlebihan terhadap semua reformasi murni dan pengabdiannya untuk kekejaman serta sikapnya yang flamboyan.

Ia juga idola para pejuang revolusi bahkan kaum muda generasi tahun 1960-1970 atas tindakan revolusi yang berani yang tampak oleh jutaan orang muda sebagai satu-satunya harapan dalam perombakan lingkup borjuis kapitalisme, industri dan komunisme.

Penghormatan terhadap Che Guevara

Berbagai tokoh sastra, musik dan seni telah mempersembahkan komposisinya kepada Che Guevara.

Penyair Chili Pablo Neruda mempersembahkan kepadanya puisi Tristeza en la muerte de un héroe (Kesedihan karena kematian seorang pahlawan) dalam karyanya Fin del mundo (Akhir dunia) pada tahun 1969. 

Pengarang Uruguay, Mario Benedetti menerbitkan pada tahun 1967 serangkaian puisi yang dipersembahkan kepadanya dengan judul A Ras del Sueño (Pada tingkat impian). 

Penyanyi Carlos Puebla mempersembahkan sebuah lagu Hasta siempre comandante Che Guevara (Untuk selamanya komandan Che Guevara) dan Los Fabulosos Cadillacs, Gallo RojoEl León (Singa) pada tahun 1991. (Ayam jantan merah) yang muncul dalam album........


2 komentar:

Mohon daftarkan diri anda:

Pulau Seram, Maluku