27 Juni 2011

Supir taxi..

Hari itu secara kebetulan saya ada keperluan di bandara Soekarno-Hatta, jam telah menunjukan pukul 12.00 malam, setelah apa yang menjadi tujuanku ke bandara telah selesai, saya mencoba menunggu bus Bandara

tujuan Gambir untuk balik ke hotel, maklum dengan menggunakan bus setidaknya bisa  sedikit menghemat kantong (mahasiswa.com) yang kebetulan hari itu lagi pas-pasan.

Hari semakin larut, jam menunjukan pukul 1.00 dini hari, dimana untuk sarana transportasi umum sebagian besar sudah masuk kandang alias sudah tidak beroperasi.

Mungkin karena sudah larut malam, bus yang saya tunggu tidak juga terlihat/datang, akhirnya saya mencoba beralih ke taxi. Disaat bersamaan ada yang menghampiri, seorang laki-laki dengan penampilan sangat sederhana menawari jasa mengantarkan saya menggunakan taxi dengan tarif non argo namun sedikit di bawah tarif kewajaran. Singkatnya setelah tarifnya disepakati kami pun berangkat.

Sepanjang perjalanan, saya mencoba membuka sedikit obrolan yang ringan, mengawalinya dengan menanyakan asal-usul, tempat tinggal, pendidikan, keluarga dan hal-hal umum lainnya. Obrolan kami semakin hangat dan akrab saja dan mungkin karena arah perjalanan kami sama alias tempat tinggalnya tidak jauh dari hotel tempat saya menginap di daerah kawasan Menteng, dia terlihat sedikit lebih santai menyetir.

Dengan sedikit bergaya ala teman, saya membuka obrolan yang sedikit lebih luas dengan topik kebetulan-kebetulan. Sepanjang perjalanan obrolan kami semakin dan semakin asik, namun diantara berbagai sisi obrolan kami, saya sangat kagum dan salut atas semangat kerjanya, semangat kerja sebagai seorang supir taxi.

Dia berperawakan kecil untuk ukuran umum, kurus dan sedikit kurang rapi dalam hal penampilan dibanding dengan supir taxi semacam Blue bird, namun perawakan dan penampilan bukan menjadi perhatian saya tapi semangatnya, semangat kerja, semangat menantang kerasnya kehidupan kota metropolitan, semangat pantang menyerah untuk menaklukkan hidup.

Dengan seorang istri yang katanya lumayan cantik serta memiliki lima orang anak, dia sangat mensyukuri keberhasilannya; mempunyai sebidang kavlingan tanah di daerah Ciputat, mobil yang dijadikan taxi dan walau saat ini masih tinggal di rusun sederhana sebagimana ucapannya tapi setidaknya rusun tersebut juga telah menjadi milik sendiri,,, semuanya ia peroleh dari hasil jerih payah sebagai seorang Supir Taxi. 

Namun di balik semua keberhasilan yang ia miliki, ada satu keberhasilan yang sangat dia banggakan yaitu mampu membiayai sekolah anak-anaknya. Sebagai seorang supir taxi, mungkin apa yang ia capai masih diatas rata-rata mereka yang memiliki profesi sama.

Dengan sedikit memakai pengetahuan manajemen, dia menceritakan bagaimana dia berusaha mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, bagaimana dia memanfaatkan taxi sebagai sumber mata pencaharian untuk membiayai sekolah anak-anak, bagaimana dia memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk mengais rejeki dengan taxi demi pendidikan anak-anak yang katanya tiga orang telah meraih gelar kesarjanaan dari jerih payah sebagai supir taxi.

Yah,,itulah keberhasilan terindah dalam hidupnya, keberhasilan yang sangat ia banggakan..

Saya sejenak termenung, melihat dan mendengar ceritanya,, entah itu benar, cuma hayalan, hanya ilusi atau apalah yang semacamnya, satu yang pasti kalau itu benar  sangat wajar dan dia patut berbangga dengan keberhasilan yang dicapai tersebut, setidaknya dengan pendidikan yang hanya sebatas menengah pertama serta dibalik kesederhanaan dan kelusuhan, dia memiliki semangat yang telah membuahkan hasil terindah....mampu membiayai tiga orang anaknya sampai selesai perguruan tinggi.

Mudah-mudahan keberhasilan itu ada juga pada supir-supir taxi yang lain, karena sejujurnya kita masih melihat pekerjaan supir taxi dengan sebelah mata karena tidak menjanjikan kelayakan hidup, padahal merekapun sebenarnya pahlawan jalanan, pahlawan transportasi, setidaknya di situasi seperti yang saya alami…..itulah Supir Taxi.










Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon daftarkan diri anda:

Pulau Seram, Maluku