12 September 2011

Para presiden Amerika yang gagal dalam pidatonya

Amerika Serikat (bahasa Inggris: United States of America - USA atau United States - U.S.) adalah sebuah Republik Federal yang terdiri dari 50 negara bagian dan sebuah distrik federal. Kecuali Alaska (utara Kanada) & Hawaii (lautan Pasifik), 48 negara bagian lainnya serta distrik federalnya terletak di Amerika Utara.

Amerika Serikat berbatasan dengan Meksico dan Teluk Meksico di sebelah selatan, dan dengan Kanada di sebelah utara dan barat laut (eksklave Alaska). Di sebelah barat negara ini berbatasan dengan Samudera Pasifik dan di sebelah timur dengan Samudera Atlantik. Selain itu, Amerika Serikat juga "memiliki" Karibia dan Pasifik, walaupun wilayah tersebut bukanlah bagian dari Amerika Serikat.

Dengan luas wilayah 9,83 juta km2 dan penduduk sebesar 309 juta jiwa, Amerika Serikat adalah negara terbesar ke-3 atau ke-4 berdasarkan total luas wilayahnya dan terbesar ke-3 berdasarkan jumlah penduduk. Negara ini merupakan negara multietnis dan multikultural, yang disebabkan oleh masuknya para imigran dari seluruh dunia.

Ekonomi Amerika Serikat merupakan ekonomi yang terbesar di dunia, dengan produk domestik bruto (perkiraan 2008) sebesar AS$14,4 triliun (seperempat dari PDB dunia berdasarkan nominal dan seperlima berdasarkan paritas daya beli).
Namun dalam sejarahnya, Negara Adidaya baik dalam segi ekonomi maupun militer ini banyak juga mengalami kegagalan-kegagalan dan salah satu kegagalan dalam sejarah mereka adalah pidato pidato para presidennya.

Ada tujuh kegagalan pidato presiden AS,  dua tentang masalah perburuhan dan keduanya oleh Harry Truman. Satu tentang pemogokan kereta api pada 1946, dan yang lain tentang pemogokan baja pada 1952. Tidak ada satupun pidato yang berpengaruh pada ekonomi, meskipun disertai proposal yang rinci.

Aksi mogok diselesaikan oleh buruh itu sendiri dan manajemen, terlepas dari pidato-pidato presiden. Buktinya, aksi mogok kereta api menutup hari dengan pidato presiden.

Keseimbangan pidato ditujukan pada krisis yang berbeda-beda, seperti biaya energi yang melonjak, inflasi, dan resesi. Masing-masing pidato menawarkan solusi khusus untuk peningkatan ekonomi. Sementara masing-masing presiden memberi gambaran luas dari masalah, kebanyakan menawarkan satu paket solusi yang spesifik.

Jarang ada rencana-rencana tersebut yang dijalankan, baik karena oposisi politik atau karena masalah bisa dirampungkan secara internal. Dalam banyak kasus, perekonomian semakin memburuk setelah menjadi sorotan presiden. Apalagi tidak mungkin untuk melacak setiap pemulihan atas usulan presiden dalam hampir setiap kasus.

Beberapa hal yang dijadikan undang-undang begitu substansial telah diubah oleh Kongres, dan diakui sangat mirip dengan saran presiden. 24 / 7 Wall St mencermati semua pidato presiden yang ditujukan dalam sesi gabungan Kongres dari The Great Depression hingga kini, untuk mengidentifikasi semua hal, terutama yang terkait dengan ekonomi.

Ini adalah Tujuh Pidato Presiden yang gagal dalam Kongres Ekonomi.

Harry S. Truman “Mogok Pekerja Rel KA (25 Mei 1946)
Inflasi: 8.3%
Pertumbuhan PDB 1 tahun: -10,9% (kedua terburuk sejak Depresi Besar)
Pengangguran: 3,9%

Pada 25 Mei 1946, Truman berpidato tentang krisis besar yang dihadapi AS. Terutama krisis yang disebabkan sekelompok orang yang dinilai menempatkan kepentingan pribadi di atas kesejahteraan bangsa. Kelompok orang tersebut adalah ratusan ribu pekerja batubara dan rel kereta api yang melakukan mogok kerja.

Percaya bahwa serikat pekerja akan terlalu jauh mengancam aksi mogok, Truman menuntut para pekerja menyelesaikan atau ia akan menerapkan langkah-langkah, seperti menurunkan militer. Namun, di tengah pidato, Truman menerima kabar bahwa aksi mogok pekerja kereta api telah usai. Beberapa hari kemudian, mogok pekerja batu bara juga berakhir. Hingga dua periode jabatannya, Truman menghadapi beberapa perselisihan lebih banyak terkait tenaga kerja.

Harry S. Truman : Pidato Marshall Plan (17 Movember 1947)
Inflasi: 14,4%
Pertumbuhan PDB 1 tahun: -3,4%
Pengangguran: 3,9%

Pada 17 November 1947, Presiden Truman menyampaikan pidato pada Kongres ke-80, meminta untuk memberikan bantuan ke Perancis, Italia dan Austria serta mengatasi kenaikan inflasi di AS. Presiden meminta mengatasi kenaikan harga barang-barang tertentu, mencatat bahwa harga rata-rata untuk semua item biaya hidup telah meningkat 23% sejak pertengahan 1946. Usahanya sebagian besar ditentang oleh Kongres, sebuah kelompok yang disebut Truman sebagai "Do Nothing Congress."

Harry S. Truman : Perselisihan Industri Baja (10 Juni 1952)
Inflasi: 1,9%
Pertumbuhan PDB 1 tahun: 3,8%
Pengangguran: 3,0%

Pada 1952, Serikat pekerja baja AS yang bekerja di US Steel dan 9 perusahaan lain, mulai melakukan mogok menuntut kenaikan upah. Sebelum pidatonya, Truman telah menasionalisasi industri baja, keputusan yang cepat dibatalkan oleh pengadilan.

Dalam sambutannya, Truman meminta Kongres mengesahkan upaya pemerintah atas pabrik baja. Permintaan ini tidak dikabulkan dan pekerja baja mogok selama 53 hari, hingga mereka mencapai kesepakatan dengan manajemen.

Richard Nixon : Kebijakan Ekonomi (9 September 1971)
Inflasi: 4,4%
Pertumbuhan PDB 1 tahun: 3,4%
Pengangguran: 5,9%

Pada 1971, AS dalam proses menarik pasukannya dari Vietnam. AS juga memasuki periode ekonomi terburuk selama bertahun-tahun, satu satu yang berusaha diperjuangkan untuk pulih selama lebih dari setengah dekade. Pengangguran berada di level tertinggi dalam sepuluh tahun dan PDB gagal untuk tumbuh pertama kalinya sejak 1958.

Presiden Nixon pun memohon dukungan bipartisan. Dalam pidatonya, Nixon meminta Kongres memangkas pajak kendaraan, mensubsidi pertumbuhan pekerjaan, dan memotong pajak penghasilan. Namun, pemotongan pajak penghasilan tidak bermakna, dan lapangan pekerjaan tidak tercipta. Adapun pengangguran tetap tinggi dan tidak turun di bawah level pada 1971, sampai pemerintahan Bill Clinton.

Gerald Ford : Diskusi Ekonomi (8 Oktober 1974)
Inflasi: 11,0%
Pertumbuhan PDB 1 tahun: -0,6%
Pengangguran: 5,6%

Pada 1974, setelah periode singkat kemakmuran, ekonomi kembali memburuk. Untuk pertama kali sejak 1958, PDB AS berkontraksi. Yang lebih mengkhawatirkan adalah inflasi melonjak menjadi 11% dari tahun sebelumnya.

Pada 1974, dalam pidatonya di depan Kongres, Ford menyatakan keinginannya secara sederhana dan jelas: "Kita harus pecut inflasi sekarang" Dia ingin menderegulasi ekonomi untuk meningkatkan kemahiran dan memberlakukan biaya tambahan pajak sementara sebesar 5%. Permintaannya ditolak. Tahun berikutnya, pengangguran melonjak menjadi 8,5%, tertinggi sejak The Great Depression. Lebih buruk lagi, inflasi terus meningkat dengan tambahan 9%.

Kondisi ekonomi terus memburuk sampai setahun kemudian, ketika Kongres memberlakukan proposal pemotongan pajak dan rabat pajak. Adapun rabat ini bukan usaha Ford, yang dikreditkan pada akhir resesi.

Jimmy Carter: Diskusi Energi
Tanggal: 20 April 1977
Inflasi: 6,5%
Pertumbuhan PDB 1 tahun: 4,6%
Pengangguran: 7,1%

Pada 1977, AS berada dalam krisis energi. Yang pertama adalah hasil embargo minyak Arab pada 1973, dan yang kedua pada 1979 selama revolusi Iran. Harga minyak, yang kurang dari US$ 3 per barel sebelum 1970, mencapai US$ 10 per barel pada pertengahan 1970. Minyak meningkat lebih dari dua kali lipat pada awal 1980-an.

Dengan melonjaknya biaya bahan bakar , Carter membuat sebuah proposal 10 poin untuk mengurangi penggunaan energi AS dalam jangka panjang. Saran Carter berkisar dari pengembangan sumber energi alternatif, termasuk tenaga angin, untuk menghindari subsidi yang secara artifisial mengurangi biaya energi. Sebagian besar proposal ini gagal diterima, dan sebagian belum ditetapkan hingga kini.

Ronald Reagan: Pidato Pemulihan Ekonomi dan Inflasi (28 April 1981)
Inflasi: 10,3%
Pertumbuhan PDB 1 tahun: 2,5%
Pengangguran: 7,6%

AS menghadapi inflasi yang sangat tinggi di awal 1980-an. Untuk mengatasi masalah ini serta ekonomi yang sekarat, Presiden Reagan menyampaikan pidato kepada Kongres. Dalam pidatonya, ia mendorong pemangkasan belanja pemerintah dan tarif pajak , dengan mengatakan, "Pemerintah kami terlalu besar, dan menghabiskan terlalu banyak."

Akibatnya, Undang-Undang Pajak Pemulihan Ekonomi Tahun 1981 disahkan, meskipun imbasnya tidak signifikan. Perekonomian segera jatuh lebih jauh ke dalam resesi. Inflasi tetap tinggi dan pengangguran meningkat, memuncak pada tingkat tahunan 9,7% pada 1982. Ada kemungkinan bahwa pemulihan, yang dimulai dua tahun kemudian, adalah hasil dari kebijakan Federal Reserve dan belanja pertahanan.



sumber : http://ekonomi.inilah.com/read/detail/1772946/tujuh-pidato-presiden-as-yang-gagal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon daftarkan diri anda:

Pulau Seram, Maluku